Sabtu, 03 Maret 2012
Aku dan Sotoji
Kamis, 23 Februari 2012
Eksis Lewat Kuis, Giveaway dan Kompetisi Online :D
Bicara soal internet, untuk satu kata ini memang sepertinya tidak akan ada habisnya menjadi suatu perbincangan tentang teknologi yang begitu diminati oleh masyarakat Indonesia saat ini. Internet bahkan seperti virus yang cepat menyebar di semua kalangan masyarakat, virus yang dapat memberikan manfaat yang positif atau sebaliknya yakni memberikan pengaruh buruk bagi penggunanya.
Internet dikenal oleh semua kalangan, baik orang tua, dewasa, remaja dan bahkan anak- anakpun sekarang sudah dapat menjangkau teknologi tersebut. Padahal jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih ingat saat aku genap berusia 5 tahun. Orang tuaku memberikan kado ulang tahun sebuah boneka, buku gambar dan alat warna. Di usiaku yang terbilang masih kecil, aku cukup senang mendapatkan kado yang menurutku sangat sangat bagus. Namun sepertinya, di jaman yang serba canggih saat ini, sangat jarang aku menemui anak- anak bermain dengan teman- temannya seperti petak umpet, lompat tali dan permainan lainnya. Saat ini anak- anak lebih senang bermain dengan gadget pemberian orantuan mereka. Dengan gadget tersebut mereka juga bisa bermain, menggambar, mendengarkan musik, bahkan ada beberapa yang mungkin sudah mahir dan akarab dengan dunia internet. Karena dunia memang sudah berkembang global, mau tidak mau kita sebagai masyarakat juga harus mengikuti perkembangannya termasuk pertumbuhan teknologi. Selain itu akses pendidikan, kesehatan, transaksi perdagangan saat ini juga telah dapat dengan mudah dilakukan berkat adanya internet.
Mayoritas masyarakat Indonesia membutuhkan internet dalam segala bidang, baik pekerjaan, pendidikan bahkan untuk sekedar hiburan. Banyak hiburan yang saat ini disediakan oleh internet, misalnya saja saat ini banyak pengguna internet yang memanfaatkan situs jejaring pertemanan sosial seperti facebook, twitter, blogger, tumblr, dan lain- lain. Diantara sekian banyak situs jejaring pertemanan sosial, sebagian besar penggunanya adalah remaja dan anak- anak. Berkaitan dengan tema writing blog competition yang diusung oleh AXIS kali ini adalah “Eksis dengan Internet”, banyak remaja dan anak- anak yang membutuhkan pengakuan diri dimana mereka dapat menujukkan eksistensi mereka di lingkungan sosialnya maupun di dunia maya melalui internet. Masa remaja adalah saat dimana dia masih mencari tahu siapa dirinya dan tujuan hidupnya sedangakan anak- anak, mereka lebih sering meniru apa yang dilihat, didengar, dan yang dilakukan oleh sekitarnya.
Dengan hadirnya situs jejaring sosial yang semakin marak dan mudah diakses, tidak hanya di komputer dan laptop saja tetapi situs jejaring sosial ini dapat diakses dengan mudah di handphone atau smartphone. Kemudahan inilah yang membuat remaja dan anak- anak saling berlomba- lomba untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam suatu kegiatan dimana hal tersebut pada akhirnya membentuk citra pribadi mereka di dunia maya, seperti mengupload foto di jejaring sosial mereka, bertukar pendapat tentang sebuah issu, update status yang dibatasi oleh beberapa karakter kata, dan bahkan banyak berita atau info adari media cetak yang juga dapat di share dan berita tersebut langsung tersebar di homepage atau timeline orang lain. Jika masih pada tahap yang wajar dan bermanfaat untuk pengembangan diri itu sah- sah aja, asalkan juga tidak mengganggu atau menyinggung, merugikan pihak lain. Aku sendiri banyak banget terbantu dengan adanya internet misalnya saja dengan adanya penyedian situs jejaring sosial sebagai hiburan dan tentunya pendidikan yang positif ya..
Belakangan ini aku tertarik untuk mengikuti kompetisi- kompetisi online misalnya seperti writing competition, photo essay competition. Tidak hanya itu aja sih, aku juga manusia biasa yang butuh hiburan kalau lagi sumpek dengan tugas- tugas kuliah ataupun pekerjaan rumah. Wajar yaa, biasanya sih aku coba- coba buat ikutan kuis- kuis online dan giveaway yang ada di situs- situs jejaring sosial, ya mungkin hadiah atau barang yang aku dapat nggak seberapa sih, tapi buatku lumayan kok. Awalnya ikutan nyoba kuis- kuis begituan ya sering gak menang tapi nyobanya juga jarang- jarang aja sih kalau lagi ada waktu senggang aja dan kegiatan ini Cuma buat have fun aja alias seneng- seneng kalau lagi sumpek, lumayan kan kalau menang. Dari pada nulis status galau mulu. Hahaha.. Tapi pada akhirnya dari usaha- usaha kecil- kecilanku itu akhirnya membuahkan hasil juga, aku menang kuis untuk pertama kalinya dari sebuah crafting onlineshop yang membuat barag- barang handmade. Emang dari awalnya udah ngincer itu hadiah sih.. Yaph, aku dapat bantal owl (burung hantu) dari idekuhandmade. Pernah juga dapat pulsa gratis dari salah satu cloth onlineshop, trus dapat giveaway rok cewek dari cloth online shop juga, lumayan kan. Ditanya seneng?! Ya pastilah siapa sih yang nggak senang kalau dapat hadiah, apalagi nggak perlu keluar uang untuk beli barang itu. Setidaknya dari situ aku belajar untuk lebih kreatif memanfaatkan internet. Aku juga nggak perlu menyusahkan orangtuaku untuk beliin barang ini itu. Selama aku bisa berusaha untuk dapatkan barang yang aku inginkan dengan jerih payahku sendiri, kenapa enggak. Menurutku itu bisa jadi nilai plus juga buat aku. Aku jadi terlatih untuk memanfaatkan apa yang aku punya, misalnya saja karena aku suka sekali dengan crafting, aku sering ikut kompetisi- kompetisi online yang berbau crafting seperti scrapbook competition, DIY competition, dan lainnya.
Sebenarnya banyak sih manfaat yang aku dapat dari situs- situs jejaring sosial itu tidak hanya sekedar update status, comment sana sini, upload foto dan lainnya, dari sana aku masih bisa berkreasi dengan karya- karyaku, bertukar pendapat dengan para crafter lain untuk menghasilkan karya- karya dan produk- produk baru yang masih fresh. Semoga dari ceritaku diatas dapat memberikan sedikit inspirasi buat kalian semua yang berkenan untuk membaca ya :)
Jumat, 27 Januari 2012
masuk 100 besar dari 150 peserta blog contest Mizan.com Alhamdulillah banget :’)
Bisa dibilang ini adalah keikutsertaanku yang pertama di sebuah contest blog apalagi ini temanya tentang nulis surat buat Dewi Lestari. Aku yang masih amatiran ini, mulai nyoba- nyoba buat ikutan lomba ini soalnya lumayan sih hadiahya 3 paket buku karya Dewi Lestari seperti Perahu Kertas, Filosofi Kopi dan Madre. Meskipun udah punya novel Perahu Kertas punya mbak Dee dan udah baca Filosofi Kopi walaupun pinjem punya temen tapi aku pengen banget dapetin sesuatu yang aku suka dengan jeri payahku sendiri. Jadi ada rasa bangga yang besar serta apresiasi sama diri sendiri kalau nggak selamanya kekurangan kita selalu jadi masalah utama untuk menjadi yang terbaik diantara yang terbaik lainnya.
Novel Perahu Kertas sendiri, sudah aku beli sejak semester satu di bangku kuliah. Gak tau kenapa habis baca buku itu, langsung kayak kerasukan sihirnya Kugy dan Keenan yang diceritakan oleh Dewi Lestari. Sampai- sampai pernah saat itu, aku menambahkan nama “Karmachameleon” yang menjadi julukan tokoh Kugy di Perahu Kertas pada namaku sendiri di sebuah akun jejaring sosial pertemanan. Alhasil jadinya seperti ini: Pipin Lestari Karmachameleon.
Hhahaha :D Pada akhirnya banyak temen- temen yang tanya soal nama aneh yang baru saja aku selipkan di belakang nama ku itu. Aku hanya senyum- senyum kecut sambil ketawa dan tidak memberi tahu mereka sama sekali. Sampai pada suatu saat, perpustakaan di universitasku menyediakan buku- buku karya Dewi Lestari seperti Perahu Kertas ini dan banyak dari teman- temanku yang membacanya. Dari situlah, mereka banyak yang tahu bahwa aku mengadaptasi nama “Karmachameleon” dari sebuah karya besar Dewi Lestari bernama Perahu Kertas.
Banyak teman- temanku yang tertarik ingin membaca novel ini, tapi sayang koleksi perpustakaan sangat tebatas dan tidak boleh dibawa pulang. Dengan inisiatif sendiri, aku meminjamkan novel itu pada teman- temanku dan banayak yang meminjamnya. Tapi, setelah balik ada satu halaman di novel itu yang copot. Hehehe.. mungkin teman- temanku ini sangat antusias banget bacanya kali ya? Cuma yaudahlah.. gak apa apa. Aku ikut seneng pada akhirnya Perahu Kertasnya di baca sama mereka.
Nah, dari sini pas tahu ada blog contest tentang nulis surat buat Dee, aku langsung semangat banget. Gimana enggak, hadiahnya aja 3 paket bukunya Dee yang Perahu Kertas, Filosofi Kopi dan Madre. Lumayan kan semua buat koleksi bacaan apalagi karya seorang Dewi Lestari yang bener- bener bikin aku jatuh cinta sama setiap gaya bahasa yang ia tuangkan di novel dan cerpen- cerpennya.
Dan pas tau aku masuk di 100 besar finalis lomba blog contest Mizan.com surat untuk Dewi Lestari, aku excited banget dan berharap bisa menang. Tapi mungkin emang belum rejeki kali ya, aku cukup berbangga diri dengan masuknya aku di 100 besar finalisnya. Karena dari 100 tadi hanya di pilih 3 orang saja yang bisa dapetin bukunya Dee.
Yaah antara pesimis dan optimis sih, meskipun adminnya udah bilang kalau yang 3 orang yang diplih itu nantinya berdasarkan 100 finalis yang sudah di share di twitter. Ternyata aku masih belum beruntung :p tapi gak papa. Aku sadar ini adalah tulisanku yang pertama dan masih awam, perlu banyak belajar dari banyak orang hebat lainnya. Ini aku jadikan sebuah acuanku dan penyemangat buat aku untuk tetep concern sama dunia nulis. Selamat ya buat 3 orang pemenang yang beruntung, yang belum beruntung juga jangan menyerah ya, surat kalian juga bagus- bagus kok.
I’m happy writing :)
Rabu, 25 Januari 2012
Surat untuk Dewi 'Dee' Lestari
Haloo mbak Dee.. Kamu selalu menginspirasi segala hal yang ingin atau yang sedang akan kulakukan, membuatku setiap harinya belajar, belajar dan terus belajar utuk menjadi lebih baik. Mungkin sepucuk surat ini belum bisa menumpahkan segala rasa kagumku sama sosok Dewi Lestari. Tapi besar harapanku kalau surat ini nantinya dapat dibaca langsung sama mbak Dee sendiri. Well, suatu saat nanti aku juga ingin jadi penulis yang punya karakter sendiri seperti mbak Dee, gaya bahasa yang digunakan dalam tiap novel dan cerpen cerpennya benar- benar menceminkan karakter seorang Dewi Lestari. Saat ini aku sedang menjalani kuliah di sebuah universitas di Surabaya. Aku kuliah di jurusan Sosiologi FISIP. Dari sinilah, kebiasaan tulis menulis itu mulai bangkit lagi karena dulu sejak SMP aku juga suka menulis tapi sayang kebiasaan tersebut lama- kelamaan hilang. Kebetulan sekali untuk pertama kalinya aku mengenal karya Dewi Lestari seperti “Perahu Kertas” sebuah novel yang menurutku memiliki pesan moral yang lekat dengan kehidupan remaja yang rentan dengan masalah pencarian jati diri. Selain itu beragam kisah cinta yang unik dan spontan antara Kugy dan Keenan membuat alur cerita novel ini seperti perjalanan dua perahu kertas yang nantinya dipertemukan oleh neptunus. Dari Kugy dan Keenan, aku belajar banyak hal, “berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi” kutipan itulah yang selama ini menguatkanku dengan kondisiku yang ada saat ini. Aku juga sangat menyukai gambar dan design dan pernah waktu lulus SMA nanti aku berkeinginan untuk masuk pada jurusan design tetapi ketika kesempatan itu datang padaku untuk melanjutkan kuliah di luar kota, orang tuaku tidak menyetujuinya. Sedangkan di Surabaya sendiri, aku tidak lolos tes untuk jurusan yang aku pilih. Namun tidak berarti aku benci dengan kuliahku sekarang, di Sosiologipun aku juga belajar banyak hal. Banyak belajar tentang interaksi orang per orang dan dari sini aku juga terlatih untuk belajar menulis. Aku yakin suatu saat kecintaanku terhadap gambar dan design tidak akan luntur, aku akan tetap berkreasi dengan sepenuh hati. Dari novel ini pun aku juga belajar bahwa ketika cinta sejati belum dapat diraih, yang tinggal disana adalah kelapangan sebuah rasa untuk menerima. Cinta sejati itu tidak harus memiliki, namun cinta sejati itu bisa hidup di hati manusia selamanya membiarkan rasa itu bahagia demi kebahagiaan orang yang dicintainya tanpa harus merenggut kebahagian orang lain. Cinta sejati tidak boleh egois, mementingkan perasaan diri sendiri dan membuat orang lain terluka. Itulah rasa yang disampaikan Kugy dan Keenan, jika pada akhirnya mereka harus menerima keadaan hati yang belum bisa dipersatukan namun suatu ketika takdir perahu kertas mempertemukan mereka kembali dalam satu muara indah.
Dari : Pipin Lestari


